14 C
New York
Saturday, September 24, 2022

Buy now

spot_img

Arsip Sejarah : Paolus Hadi ” Ubah Mindset, Jangan Malu Jadi Petani, Jadilah Sukses Dengan Belajar Menjadi Petani Modern “

Bupati Sanggau Paolus Hadi meminta anak muda di Sanggau tidak malu menjadi petani. Ia juga mengajak generasi muda lebih kreatif, lebih mandiri, lebih ilmiah dan lebih modern serta tidak bermental kuli terus. Hal itu disampaikannya agar gererasi penerus tidak ketergantungan pada lowongan pekerjaan, meskipun harus jadi petani.

“Yang paling sering terjadi, ketika selesai kuliah ada yang SMS ke Bupati, dan minta agar bisa jadi tenaga kontrak di Pemerintahan. Saya tegaskan, Sarjana tidak harus jadi PNS maupun tenaga Kontrak di Pemerintahan. Coba ubah mainset, jadi orang yang bukan bermental kuli (orang yang digaji). Jangan malu jadi petani, dan jadilah petani yang modern sehingga bisa bertani yang inovatif. Banyak yang sukses dan kaya hanya jadi petani, tapi harus komitmen, ” katanya dalam arahannya diacara Gawai Dayak SMA Don Bosco IV di halaman SMA Don Bosco Sanggau, Selasa (13/6/2017).

Paolus Hadi memotivasi siswa dan siswi SMA Don Bosco tentang pentingnya pendidikan untuk mencetak generasi penerus bangsa yang berkualitas. Ia pun menepis prinsip, bahwa sekolah tidak penting. Dikehidupan nyata tidak menggunakan rumus matematika, kimia dan fisika.

“Ada yang bilang sekolah, kenapa harus sekolah? Kenapa harus belajar serius? sementara dikehidupan nyata kita tidak menggunakan rumus matematika, kimia dan fisika, benar juga sih. Tapi saya tegaskan, dari pelajaran-pelajaran yang kalian dapat itulah kalian bisa membuka celah dunia untuk jadi penemu yang hebat, ” tuturnya.

Pria yang kerap disapa PH ini mengaku salut dengan SMA Don Bosco yang bermodalkan dana mandiri, tidak mengajukan proposal ke Pemerintah, tapi berani dan bisa sukses menyelenggarakan kegiatan Gawai Dayak di sekolah.

Ia berharap acara tradisi di SMA Don Bosco Sanggau berkelanjutan, serta bisa menjadi contoh untuk Sekolah lain.

“SMA Don Bosco hebat, saya tahu tidak semua orang Dayak di sekolah ini, tapi punya semangat melestarikan budaya untuk kegiatan sekolah. Yang bukan orang dayak pun bisa belajar Budaya dayak. Saran saya, untuk ke depannya, datangkan pakar yang mengerti dayak, adakan seminar kecil untuk menambah wawasan tentang dayak. Dan jangan sampai kita diidentikan dengan orang yang kasar. tunjukkan bahwa dayak itu ramah dan cinta damai, ” terangnya.

Pada kesempatan yang sama, pelantun lagu Onih Agah ini mengatakan siswa SMA Don Bosco Sanggau beruntung bisa bersekolah yang bisa menyalurkan hobi dan bakat. Banyak hal yang bisa dikembangkan oleh anak muda.

Ia juga mengingatkan, berkreasi boleh-boleh saja, namun tidak berlebihan. Hal ini disampaikannya agar nilai keaslian dari budaya (tarian, pakaian adat, musik, dan lainnya) tidak sampai hilang.

“Mungkin saja saya yang keliru, saya pernah bertanya dengan seorang koreografer tari, apakah kreasi koreo yang digarap masih ada nilai keaslian dari budaya suatu daerah? namun pertanyaan itu tidak dijawab, ” katanya.

Sementara itu Kepala SMA Don Bosco Sanggau, Martinus Bok menyampaikan, acara gawai dayak SMA Don Bosco merupakan bentuk ucapan syukur mengisi class meeting atas kegiatan belajar mengajar selama satu tahun ajaran mulai dari penerimaan siswa hingga ulangan umum kenaikan Kelas.

Selain itu, acara yang didukung oleh Yayasan Helvetia ini bertujuan melatih siswa mengenal lebih dekat dengan budayanya, seperti main pangkak gasing, menyumpit, masak pansoh (masak daging menggunakan bambu), masak lemang dan lainnya.

 

Sumber : pontianak.tribunnews.com ( 2017 ), rri

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

0FansLike
3,494FollowersFollow
0SubscribersSubscribe
- Advertisement -spot_img

Latest Articles